Latest News

Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2016

Sadis Sekali!! Wanita Ini Dimasak Hidup-Hidup Dalam Kuali Yang Mendidih!! Apakah Yang Jadi Penyebabnya .........


Fir'aun memiliki searang pegawai yang dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Ia adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru masak istana, Masyitoh juga sama-sama taat kepada Allah. Hanya saja, mereka merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah dari Fir'aun. Hal ini menyangkut kehati-hatian juga keselamatan diri dan iman mereka.

Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir'aun dan Hazaqil. Mereka berdebat mengenai dijatuhkannya hukuman mati terhadap ahli sihir yang menyatakan keimanannya atas ajaran
Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir'aun pun marah hingga akhirnya tahu bahwa sebenarnya Hazaqil beriman kepada Allah SWT. Fir'aun memberi hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sedikit pun sebab ia yakin dirinya benar.
Hazaqil mengembuskan napas terakhir dalam keadaan terikat pada pohon kurma. Tubuhnya dipenuhi tembusan anak panah. Masyitoh sangat sedih atas kematian suami yang amat dicintainya itu. Tak ada lagi tempat mengadu selain kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, ia mengadukan nasibnya kepada Siti Asiyah. Satu hal yang tak disangka adalah, Siti Asiyah juga sama-sama menyembunyikan ketaatannya pada Allah dari Fir'aun.

Pada suatu hari, saat Masyitoh sedang menyisir rambut anak Fir'aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula saat mengambit kembali sisir itu, ia berucap,"Dengan nama Allah binasalah Fir'aun."

Kabar ini pun sampai di telinga Fir'aun. Akhirnya, Masyitoh pun dipanggil untuk menghadap. "Apa betul kamu telah mengucapkan kata-kata penghinaan kepadaku, sebagaimana penuturan anakku. Siapakah Tuhan yang kamu sembah selama ini?" kata Firaun.

"Betul, wahai raja yang lalim. Allah adalah Tuhanku. Dan tiada Tuhan selain Allah. Dia adalah Tuhan penguasa seluruh alam dan isinya," jawab Masyitoh dengan berani.

Fir'aun pun murka sehingga ia memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak dalam
kuali besar. Saat minyak mendidih, orang ramai pun dipanggil untuk menyaksikan hukuman yang akan dijatuhkan kepada Masyitoh.

Di hadapan banyak orang Masyitoh diberi kesempatan memilih, mengakui Fir'aun sebagai tuhan dengan begitu ia akan selamat. Pilihan kedua adalah tetap pada pendiriannya dengan hukuman akan dimasukkan ke dalam kuali mendidih bersama kedua anaknya.
Masyitoh tetap pada pendirian untuk tetap taat pada Allah, la pun membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali, la sempat ragu saat memandang anaknya yang berada dalam pelukan sedang asyik menyusu. Atas seijin Allah, anak yang menyusu itu dapat berkata,
"Jangan takut akan hukuman wahai ibuku karena kematian akan mendapat ganjaran dari Allah. Pintu surga menanti kedatangan kita."

Mendengar ucapan itu, akhirnya Masyitoh dan anak-anaknya terjun ke dalam kuali berisi minyak panas. Tanpa tangis. Tanpa takut, dan tak keluar jeritan. Keanehan pun terjadi, tiba-tiba tercium wangi semerbak harum dari kuali yang berisi minyak mendidih itu.



Minggu, 21 Februari 2016

Terimakasih banyak untuk suamiku...


Mungkin kata-kata yang tepat  setelah membaca sepenggal kisah ini dalam hati kita akan terus mengucap “Subhanallah, terimakasih suamiku… apa yang telah engkau lakukan untuk kami, adalah perjuangan yang sangat besar dan mulia. Semoga Allah senantiasa melindungimu, memberikan balasan dan pahala yang sangat besar pula atas pengorbananmu selama ini. SyurgaNya. Amiin…Ya Rabbal’alamiin…”
Selasa malam, setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Kuningan menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mall Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 22.25 WIB.
Keadaan jalan sudah lumayan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.
Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana jadinya jika yang berada disitu adalah istri dan anak saya?”
Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ”Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.
Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya. Pada saat itu saya baru sadar bahwa anaknya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.
“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke warung nasi yang tidak jauh dari shelter itu dan saya membeli air teh hangat padanya, dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.
Saya tunggu sejenak sampai mereka selesai. Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di daerah Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.
“Ya” jawab saya singkat.
“Kenapa sampai larut malam pak, memangnya anak istri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.
“Terus terang bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah bicara.
Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan sedih dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.
Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang membuat saya heran. Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.
Tiba tiba anaknya menangis dan semakin lama semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar bingung sekarang harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.
Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.
Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa dingin apalagi saat itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya baru sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Ya Allah. Saya benar-benar bodoh, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua data di dalamnya” dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya agar meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat sunah-nya biar bisa lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.
Keesokan paginya setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu perusahaan swasta di sekitar depok saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap kejadian tadi malam, karena handphone saya hilang.
Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus, AllahuAkbar.
“Bapak selingkuh ya, pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala (yang menandakan tidak ingat)…
Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis:
”Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan suami saya karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, tas dan dompet saya hilang setelah berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah kakak saya di Depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di halte bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa karena lupa mengembalikannya ketika untuk bermain anak saya semalam, saya ingat setelah bapak sudah berjalan tadi malam. Terima kasih.”
Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan saja ke masjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.
Semoga banyak hikmah yang kita bisa ambil dari sini, terutama dalam menghargai suami kita. Jadi pernahkah kalian mengutarakan terima kasih kalian kepada suami? Karena ada hadist dan firman Allah yang mengatakan:
“Kepatuhan kepada suami dan menunaikan haknya adalah sebanding dengan pahala jihad. Dan menduduki kedudukan perang sabil. Akan tetapi sedikit perempuan yang mau melakukannya.” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani)
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [QS. An-Nisaa’: 34]

Karena Allah Aku Memaafkanmu Suamiku


Awalnya sebagai wanita tentu aku mendambakan seorang suami yang menyayangiku setulus hati karena Allah, bisa membimbingku dunia akhirat, yang kelak akan menjagaku dan anak-anakku dari segala macam bahaya, dan mencukupkan kehidupan keluarga kami. Ya itulah keinginan setiap wanita muslim, tak lebih dan tak kurang. Namun terlalu berat cobaan yang kuterima, akan kuceritakan kisahku yang semoga dapat kalian jadikan pelajaran dalam hidup kalian sebagai muslimah yang ingin menikah ataupun yang sudah mempunyai suami.
gambar-wanita-muslimah-sedih-bercadarAwal berjumpa dengannya adalah ketika aku dijodohkan oleh orang tuaku, sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya karena aku mempunyai calonku sendiri yang sudah kukenal lama dan kuketahui tabiat serta ibadahnya. Tetapi karena paksaan orang tua yang menjamin kebahagiaan ku karena kemapanannya dan menyuruhku untuk tidak durhaka ke orang tua akupun terpaksa mengiyakannya. Kalau saja saat itu aku lebih mementingkan perkataan Rasulullah tentang hak seorang wanita dalam menerima calon suami dan berani mengutarakan ini ke orang tuaku mungkin kehidupanku akan berbeda pikirku. Rasul pernah mengatakan ini dalam sabdanya:
‘Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)
Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;
Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (HR. Bukhari)
Riwayat Ahmad berbunyi;
Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)
Dalam hadist ini menjelaskan seandainya pembangkangan Khonsa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khonsa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.
Tetapi setelah aku berfikir tak pantas aku menyesalinya, karena semua terjadi atas kehendak Allah. Jika aku menyesalinya, sama dengan aku menyalahi takdir yang Allah gariskan padaku. Tugasku adalah mensyukuri apapun pemberian Allah dan menjalani segala sesuatunya sesuai dengan syariat
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di Bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya” (QS. Al Hadid : ayat 22)
“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR. al-Bukhâri no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir dan Muslim no. 2675)
Akhirnya aku mencoba untuk mencintainya tentu dengan niat ibadah untuk Allah, dan akhirnya aku terbiasa. 1 setengah tahun pernikahan kami berjalan, kami dikaruniai seorang putra. Tak pelak kehidupan keluargaku makin bertambah ramai dengan datangnya titipan Allah ini, namun tak sesuai dengan apa yang aku impikan. Suamiku mulai berubah, sering terlambat pulang kerja, bahkan terkadang sering menginap. Saat kutanya dia malah membentakku dengan kata-kata kasar hingga bayi kecil kami menangis karena teriakannya. Aku hanya menangis dan mengadukan ini ke Allah berharap dia mendapat hidayahNya. Akupun tidak memendam sedikitpun amarah lagi kepada suamiku, aku tetap melayaninya sebagai istri dan mensyukuri segala pemberiannya sebagaiman hadist ini:
“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Seiring waktu berjalan, dia semakin kasar bahkan terkadang nafkah yang diberikan semakin berkurang. Saat kutanya apakah ada masalah di kantornya dia malah menyuruhku bekerja untuk mencari tambahan buat biaya hidup kami, semakin berat perjuanganku untuk beribadah kepada Allah adalah saat mertuaku ikut membenciku karena alasan yang tidak jelas. Ia sering bilang aku boros dan tak pandai menjaga suamiku, kerap kata-kata yang menyakitkan pun terlontar untukku. Aku tetap bersabar dan terus mendoakan mereka berdua, berbekal gelar sarjana ekonomi akupun mencari kerja.
Akhirnya aku diterima kerja disebuah perusahaan di kota, tak jarang kubawa anakku saat bekerja atau kalaupun terlalu sibuk kutitipkan putrakku kepada ayah-ibuku, saat mereka bertanya mengapa aku bekerja kujawab dengan datar “aku hanya ingin menyibukan diri dan menyiapkan bekal lebih banyak untuk putrakku”. Semakin sakit hatiku saat orang tuaku mengatakan kalau aku tidak becus menjadi ibu dan istri, karena sudah mempunyai suami mapan tetapi malah menyibukan diri untuk bekerja. Aku hanya diam, tak ku jelaskan soal masalah dikeluargaku bahwa suamiku sendirilah yang menyuruhku kerja. Aku tak ingin orang tuaku merasa bersalah karena pilihan mereka.
“Bersabarlah kalian karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: Ayat 46)
Beberapa tahun aku bekerja kini, aku tetap masih menerima perlakuan kasar. Terkadang saat suamiku marah dengan alasan tidak jelas, aku tetap meminta maaf padanya dengan kata-kata lembut agar aku diizinkan tidur disampingnya. Kujalankan tugasku sebagai seorang istri sesuai syariat agama sebagaimana hadist Rasulullah saw:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)
Suatu ketika, karena badanku yang tiba-tiba terasa tidak enak aku meminta izin pulang dari kantor lebih cepat. Kujemput anakku menggunakan taksi di rumah orang tuaku karena sudah tak kuat badanku rasanya ingin tidur dirumah. Saat pulang kutengok mobil suamiku didalam pagar, aku terheran dan saat aku masuk aku melihat sendal seorang wanita. Kutidurkan anakku di kamarnya lalu kutengok kamarku, betapa hancur dan marahnya diriku saat melihat suamiku berzina dengan wanita lain dikamar kami. Tersontak aku berteriak, dan suamiku keluar dengan wanita itu. Suamiku menamparku, dan dia bilang dia bosan denganku dia kemudian pergi dengan wanita itu dan tidak pernah kembali. Betapa hancur hatiku, ingin pingsan rasanya karena kondisi badanku yang sangat lemah namun kudengar anakku berlari kearahku dan memelukku berkata “Bunda kenapa menangis? Ayah kemana? Bunda jangan sedih, aku bisa ko jagain bunda.” Subhanallah, aku mencoba kuat dan sabar. Semakin deras air mataku, kuucap syukur kepada Allah karena Dia memberiku seorang permata hati ini yang begitu mencintaiku dan bisa ada bersamaku saat ini.
Kusegerakan diri untuk shalat Ashar, karena waktu sudah menunjukan pukul 15.25 sore. Aku bersujud kepada Allah, karna aku tau saat tak ada tempat untuk bersandar, selalu ada tempat untuk bersujud. Setiap hari semakin ingin rasanya aku menghabiskan waktuku untuk beribadah karena jujur saja, saat aku beribadah semakin kuat dan ikhlas aku menghadapi ini. Tentunya tak kutinggalkan tanggung jawab untuk bekerja dan mengurus anakku. Suatu malam membaca Al-Qur’an kutemukan beberapa penggalan ayat yang bahkan sampai saat ini selalu masih terngiang.
“dan Aku jadikan sebahagian dari kalian cobaan bagi sebahagian yang lain. Bisakah kalian tabah?” (QS. Al-Furqon; Ayat 20)
“Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya “ (QS. Al-Mulk; Ayat 2)
“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: ayat 90)
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS, Al-Anfal: ayat 46).
“Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: ayat 155-157).
“Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih,dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kalian.Kami adalah pelindung-pelindung kalian di dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (QS. Fushshilat: ayat 30-31).
Aku rasa Allah-lah yang membimbingku agar membaca beberapa ayat ini, akhirnya semakin kuat diriku, bahkan Allah mempertemukanku dengan sahabatku yang lama tak berjumpa untuk menghiburku. Kuceritakan semua masalahku padanya, kemudian terlontar kata-kata yang membuatku semakin tegar:
Dia berkata “Jangan pernah menghitung apa yang sudah pergi darimu, cobalah hitung apa yang kau punya saat ini. Kamu masih mempunyai Allah dan anakmu, jangan kamu sia-siakan waktumu untuk hal yang tidak penting. Kamu masih mempunyaiku sebagai sahabatmu jika kamu ingin bercerita, kamu masih mempunyai anakmu untuk menemanimu, dan kamu masih mempunyai Allah untuk menjagamu”
Akhirnya kujalani hidupku untuk membesarkan anakku dengan berbekal keikhlasan ku menjalani ini karena Allah, orangtuaku pun tak jarang mengunjungi ku. Mereka merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku, namun kukuatkan mereka dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Saat itu perjuanganku semakin berat karena kebutuhan yang semakin banyak tidak sepadan dengan penghasilanku. Aku terus berdoa dan mencoba memulai usaha kecil-kecilan menjual kue di tempatku bekerja. Ada firman Allah yang mengatakan:
“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar “(QS Al-Baqarah, ayat 155).
“Hanyalah orang-orang yang bersabar itu diberikan pahala mereka tanpa batasan.” (QS Az-Zumar: Ayat 10)
Walaupun penuh perjuangan, alhamdulillah lancar dan aku bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uang. Akhirnya aku memulai usaha kuliner kecil-kecilan di dekat pasar bersama sahabatku untuk menambah penghasilanku. Dengan waktu yang tidak lama usahak baruku bersama temanku lancar dan terbilang sukses. Secara tak langsung niat untuk membahagiakan dan menafkahi anakku malah menjadi kesibukan baruku yang seakan-akan melupakan masa laluku. Akupun selalu menjadikan hadist Rasulullah dan firman Allah SWT ini acuan untuk terus berjuang melawan masalaluku bahwa masih banyak orang yang lebih menderita dariku:
lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR. Muslim).
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. ar-Ra’du, ayat 11).
Mengingat hal ini, membuatku berfikir “mengapa tak kucoba membantu orang-orang disekitarku yang lebih banyak menerima ujian hidup? Bukankah itu juga akan membantuku kelak agar lebih tegar dalam menghadapi ujian hidup” Seperti firman Allah SWT dan hadist ini:
“Dan tolong-menolong engkau semua atas kebaikan dan ketaqwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)
Allah SWT menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya” (H.R. Muslim)
“Seseorang Muslim itu adalah saudara Muslim yang lain. Dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh), barangsiapa yang menunaikan hajat saudaranya nescaya Allah akan menunaikan hajatnya, dan barangsiapa yang menghilangkan daripada seorang Muslim satu kesusahan nescaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat kelak, dan barangsiapa yang menyembunyikan (keaiban) seorang muslim nescaya Allah akan menyembunyikan (keaibannya) pada hari kiamat.” (HR Bukhori dan Muslim)
Akhirnya kucoba ikut berbagai macam organisasi sosial dan mengajak anakku, sekaligus mengajarkan anakku yang tumbuh remaja untuk saling membantu sesama. Alhamdulillah Allah melimpahkan rejeki yang melimpah, sehingga aku bisa membuat beberapa panti dan tempat bernaung untuk saudara-saudariku kaum muslim yang membutuhkan.
“Sesiapa yg beramal soleh daripada lelaki atau perempuan, sedang dia beriman,maka sesungguhnya Kami (ALLAH) akan menghidupkan dia dgn kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka akan pahala mereka dengan balasan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Nahl, ayat 97)
Namun kurasa ujian untukku belum selesai, tak jarang pria yang mendekatiku. Aku tak berani untuk kearah sana karna aku masih berusaha setia kepada suamiku (yang biarpun sudah bertahun-tahun tidak pulang tidak ada kabar tanpa menceraikanku) dan berharap dia mendapat hidayah setidaknya untuk menengok anaknya saja. Aku tak ingin dia kembali karena kasihan atau hal-hal lain tanpa keikhlasan yang tidak mencintaiku lagi, kupasrahkan semuanya kepada Allah karena Dia-lah yang mampu membolak-balikan hati manusia:
”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash : 56)
Tak lama kudengar dari beberapa teman suamiku, bahwa dia terbelit hutang dan ditinggalkan selingkuhannya untuk selingkuh ke laki-laki lain yang lebih kaya. Hatiku merasa kasihan, akhirnya kutitipkan uang kepada temannya untuk dia tanpa harus memberitahukannya bahwa itu uang dariku. Semakin berjalannya waktu, anakku tumbuh besar dan aku berhasil membuatnya menjadi sarjana. Dia tak pernah sedikitpun meninggalkanku, Allah memberikanku putra yang didambakan semua orang tua, ibadahnya rajin, berwajah tampan, dan tak pernah mengecewakanku apapun bentuknya. Mungkin doa ku yang sebelum aku mempunyai anak yang selalu kupanjatkan tiap waktu:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
(Robbi hablii min ladunka dzurriyyatan thoyyibah, innaka samii’ud du’aa’)
Artinya:
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.
(QS. Ali Imran : 38)

Dan
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(Robbi hablii minash shoolihiin)
Artinya:
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” (QS. Ash Shafat : 100)
Akhirnya tibalah saat anakku akan menikah dengan seorang wanita muslimah yang baik agamanya dan sangat cantik, saat aku hendak mengantarnya mencari gedung untuk resepsi pernikahan untuknya. Tiba-tiba datang seorang polisi mengabarkan bahwa ada pria yang selamat dari usaha perampokan dan sedang terbaring dirumah sakit karena keadaanya kritis usai berusaha menyelamatkan diri, dan sesuai dugaanku itu suamiku. Saat hendak pergi, anakku melarangku dan mengatakan biar saja. Tapi aku tetap harus menemuinya dan anakku pun terpaksa menemaniku. Saat kutemui di rumah sakit, beberapa tulangnya patah karena melompat dari tempat tinggi  berusaha melarikan diri dan kepalanya terbentur keras. Dia masih tergeletak koma, hingga ku temani sampai dia sadar di sampingnya.
Saat sadar, dia menangis dan menyesali perbuatannya tetapi anakku malah membentaknya. Semakin banyak kucuran air matanya, sehingga aku meminta anakku untuk meminta maaf kepadanya. Aku mengingatkannya kepada firman Allah SWT dalam salah satu ayat-Nya:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. Ali-Imran: 134)
Dia menangis karna baru kali ini melihat anaknya, dan diriku yang ternyata masih setia menjaga kehormatanku sebagai seorang istri. Dia mengatakan bahwa hendak menuju tempatku untuk meminta maaf, dan hendak mengembalikan uang yang aku pernah berikan. Namun tak diduga ada beberapa perampok yang mengikutinya. Akupun meminta maaf kepadanya kerena sampai membiarkannya begini, aku menangis menyesali sebagai istri yang tidak dapat berbakti kepada suami. Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, dia mengatakan bahwa melihatku dimimpinya saat koma bahwa aku kelak berada di surga. Dan dia mengucapkan kata-kata yang membuatku menangis diakhir hidupnya yang sedang diambang kesadaran, dia mengucapkan
“apa kau tau istriku, engkaulah sebaik-baiknya istri, dan engkaluah sebaik-baiknya wanita. Maafkanlah aku yang telah menyia-nyiakanmu. Ketahuilah
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulanRamadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebagai suami aku meridhaimu memasuki surga Allah.”
Setelah itu ia meninggal dengan senyuman dan tetesan air mata yang keluar dari matanya tertutup. Aku sempat kaget karna dia bisa mengucapkan kata-kata itu dengan hadist yang ditujukan untuk kemuliaan seorang istri padahal setauku pengetahuan agamanya biasa-biasa saja entah apa saja yang dia lakukan setelah pergi dari rumah. Hanya ada satu yang terfikir olehku, bahwa Allah telah menuntunnya untuk mengucapkan itu. Aku pun mencium keningnya dan mengucap “Aku setia kepadamu karena Allah ketahuilah tujuanku hanyalah cinta dan kasih sayang Allah serta syurga-Nya itu adalah hal yang terbaik dari segala yang terbaik yang kuinginkan di dunia ini, aku memaafkanmu suamiku.. karena Allah, dan semoga Allah mengampuni segala dosamu”. Aku dan anakku pun menangis.
Sesungguhnya di dunia ini ada jutaan orang menderita dan sengsara, tetapi tidak semuanya menjadi mulia disisi Allah. Seorang hamba yang beriman, bisa menyulap penderitaan menjadi kemuliaan, empedu menjadi madu, dan luka menjadi ceria.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata : “ Tuhan kami adalah “ ALLAH ” kemudian mereka beristiqamah ( berketetapan hati ) ( tetap berjalan lurus di jalan Allah ) , turunlah atas mereka para Malaikat ( sambil berkata ) , “ Janganlah takut dan jangan berduka cita dan terimalah berita gembira dengan surga yang dijanjikan kepada-mu. Kamilah ( Allah dan para malaikat-Nya ) pelindung-pelindung kamu dalam penghidupan didunia ini dan di akhirat dan didalamnya kamu memperoleh apa yang diinginkan dirimu dan kamu memper oleh (pula) didalamnya apa yang kamu minta.” ” ( QS. Fushshilat , 41 : 30-31-33 ) ,
Semoga banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini, Barakallah.


Sumber:
http://www.kabarmuslimah.com/aku-memaafkanmu-suamiku-karena-allah/
 


Sabtu, 20 Februari 2016

Istri yang menyejukan Hati Suami


Sebaris kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat  yaitu wanita shalihah. Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seseorang yang mendambakan keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang diridhai oleh Allah  ‘Azza wa jalla 
Ia menceritakan pengalamannya:
“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku telah menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata (dalam hati): “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat dua rakaat.”
Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.
Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”
Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)
Lalu ia memuji Allah kemudian memanjatkan shalawat atas Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melangkah kecuali kepada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum mengenal tabiatmu).
Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”
Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begini (Syuraih menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala sesuatu yang disukainya) dan aku benci begini dan begini (Syuraih menyebutkan semua perkara yang ia benci).”
Ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”
Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”
Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelisqadha’, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.
Tibalah waktu kunjungan mertua.
Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.
Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”
Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”
“Marhaban”, sahutku.
Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”
Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.
“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.
Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”
Ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita tidak akan terlihat dalam kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya pukul saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tidak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).
Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai dari kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?”
Aku menjawab pertanyaannya, “Sekehendak mereka!” Yaitu sesuka mereka saja.
Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak pernah marah terhadapnya.”
Saudaraku! Cintailah pasanganmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar pasanganmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
Dan seperti firman Allah SWT :
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Dikutip dari buku Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil, penerbit Pustaka At-Tibyan

Selasa, 16 Februari 2016

Pertolongan Pertama Pada Kehidupan ( P3K )




Sediakan kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kehidupan) dalam kehidupan kita. Di dalamnya, ada 7 benda :

1. Tusuk Gigi 

Jangan suka mencongkel-congkel keburukan hati orang. Sebaliknya, carilah kebaikan orang lain yang terselip, yang tidak kelihatan selama ini.

2. Penghapus 

Hapus semua kesalahan orang yang menyebabkan kita sakit hati.

3. Pensil 

Tulis dalam hati: berkah/anugerah yang kita terima setiap hari.

4. Plester

Semua luka hati dapat disembuhkan, selama kita mengizinkannya.

5. Karet Gelang 

Bersikaplah fleksibel, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat terwujud.

6. Permen Karet

Bila kita sudah berkomitmen, lakukan semua dengan ikhlas dan selalu setia, seperti permen karet yang terus menempel.

7. Permen 

Berilah senyum manis ke setiap orang yang kita jumpai, karena senyum seperti permen, semua orang menyukainya.

P3K
P3K




Senin, 15 Februari 2016

Sifat-sifat isteri yang bisa jadi akan mendatangkan rezeki bagi suaminya


Mendapatkan isteri yang ideal mungkin adalah impian para lelaki. Begitupun dengan wanita, siapa wanita yang tidak ingin memiliki suami shalih dan sesuai kriteria ideal yang didambakan. Namun kita tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita hanya bisa mengusahakan agar dapat menjalankan peran masing-masing semaksimal mungkin dan sesuai dengan apa yang diridhai Allah ta’ala.

Ada sebuah nasehat bagi seorang suami. “Bahagiakanlah isteri karena membahagiakan isteri dapat melancarkan rezeki.” Benarkah demikian? Berikut sifat-sifat isteri yang bisa jadi akan mendatangkan rezeki bagi suaminya:

 1. Wanita yang taat pada Allah dan rasul-Nya.

Ada empat faktor yang menjadi pertimbangan sebelum menikahi seorang wanita, yaitu karena (1) kecantikannya, (2) keturunannya, (3) hartanya dan (4) agamanya. Kita diperintahkan untuk memilih wanita karena faktor agamanya, beruntung sekali jika bisa mendapatkan keempatnya.
Wanita yang taat pada Allah dan Rasul-Nya akan membawa rumah tangga menuju surga, menuju ketentraman. Rumah tangga yang tentram, nyaman, bahagia adalah rezeki yang sangat berharga. Rumah tangga yang dinahkodai suami yang saleh didampingi istri yang salehah akan menjadikan rumah tangga itu berkah, menghasilkan anak-anak yang saleh / salehah, mendapatkan ridha dan rahmat Allah.

 2. Wanita yang taat pada suaminya.

Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan menyuruh seorang isteri untuk sujud kepada suaminya (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sepanjang perintah suami tidak bertentangan dengan agama, maka isteri wajib mentaatinya. Ketaatan seorang isteri pada suaminya akan membuat hati suami tenang dan damai dan bisa menjalankan kewajibannya mencari rezeki yang halal untuk keluarga. Akan halnya wanita yang berkarier di luar rumah bisa tetap bekerja sepanjang suaminya mengizinkan dan kewajibannya untuk menjaga diri dengan baik di tempat kerja.
Laki-laki adalah pemimpin atas wanita karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka wanita-wanita yang saleh adalah yang taat lagi memelihara diri di belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya”. (Q.S. An Nisa : 34).

 3. Wanita yang melayani suaminya dengan baik.
Tugas utama isteri adalah menjalankan tugas rumah tangga dengan sebaik-baiknya, melayani suami dengan baik serta mendidik anak-anaknya. Isteri yang baik berusaha melayani suaminya dengan baik seperti menyiapkan makanannya, menyiapkan keperluannya, memenuhi kebutuhan biologisnya, menjaga perasaan suaminya jangan sampai suaminya terluka karena sikapnya. Wanita yang demikian akan menjadi kesayangan suaminya dan bisa menjadi partner yang baik dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah dan menarik hal-hal positif dalam rumah tangganya, termasuk rezeki bagi suaminya.

 4. Wanita yang berhias hanya untuk suaminya.
Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah” (H.R. Muslim).
Adalah sifat wanita yang suka bersolek dan berhias, tapi wanita yang saleh hanya berhias dan menampakkan perhiasan untuk suaminya. Wanita yang jika dipandang suaminya selalu menyenangkan dan tahu bagaimana menyenangkan suaminya. Wanita yang bahkan malaikat pun mendo’akannya akan memudahkan rezeki datang padanya.

 5. Jika ditinggal menjaga kehormatan dan harta suami
Saat suami keluar mencari nafkah, isteri yang ditinggalkan di rumah harus menjaga kehormatannya, menjaga dirinya dari tamu yang tidak pantas, membatasi keluar rumah jika tidak terlalu penting. Harta suami yang dititipkan padanya dipergunakan pada hal-hal yang bermanfaat dengan seizin suaminya. Wanita seperti ini memudahkan rezeki masuk ke dalam rumahnya sebagai upah dari ketaatannya kepada Allah dan kesetiaan pada suaminya.

 6. Wanita yang senantiasa meminta ridha suami atasnya
Wanita ini tahu bagaimana menyenangkan hati suaminya. Menjaga sikap dan perilaku agar tidak menyinggung dan melukai perasaan suaminya. Dia selalu berusaha agar suaminya tidak marah padanya. Dia tidak akan pergi tidur dalam keadaan marah atau meninggalkan suaminya dalam keadaan marah sampai memperoleh maafnya. Mengajak suaminya bercanda untuk menceriakan perkawinannya. Berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik. Menjaga rahasia perkawinan dari orang lain.

Maukah kalian kuberitahu isteri-isteri yang menjadi penghuni surga yaitu isteri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya, dimana jika suaminya marah dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata ” Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (H.R.An Nasai).
Isteri seperti ini adalah isteri yang dimudahkan rezekinya melalui tangan suaminya karena amalan dan kesetiaan pada suaminya,

 7. Wanita yang menerima pemberian suami dengan ikhlas
Wanita yang tidak pernah mengeluh berapapun rezeki yang dibawa pulang suaminya. Selalu ikhlas menerima dan menghargai apapun yang diberikan suami kepadanya. Banyak disyukuri sedikit pun diterima dengan ikhlas. Wanita seperti ini adalah wanita yang mensyukuri rezekinya. Allah sudah menjanjikan bahwa jika kita bersyukur Dia akan menambah rezeki kita. Wanita yang bersyukur dan ikhlas rezekinya senantiasa bertambah baik kuantitas maupun keberkahannya yang akan diberi Allah langsung padanya ataupun melalui suaminya.

 8. Wanita yang bisa menjadi partner meraih ridha Allah.
Wanita yang menjadikan rumah tangganya sebagai ibadah, pengabdiannya kepada Allah. Bisa menjadi teman diskusi yang berimbang bagi suami. Bisa melakukan koreksi dan menyampaikan dengan lembut kepada suaminya. Mendengarkan nasihat dan kata-kata suaminya dengan penuh perhatian. Sebelum melaksanakan ibadah sunnah seperti puasa sunnah meminta izin kepada suaminya dan tidak melaksanakan jika tidak diizinkan. Bisa menjadi pendorong dan motivator suami untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah mengapa ada kalimat ” dibalik pria yang sukses ada wanita hebat di belakangnya”. Karena wanita seperti ini adalah rezeki utama suaminya.

 9. Wanita yang tak pernah putus doa untuk suaminya.
Wanita yang bersyukur adalah wanita yang menerima semua kehendak /takdir Allah padanya tapi tetap berusaha melakukan yang terbaik termasuk dengan mendoakan suami dan anak-anaknya agar sukses dunia akhirat. Wanita ini tidak pernah putus do’a, tapi menjadikannya sebagai rutinitas harian, penghias bibir setelah shalat. Wanita ini tahu bahwa rezeki suaminya akan ditambah dan diberkahi jika dirinya senantiasa melibatkan Allah pada langkah suaminya melalui doa-doa yang dipanjatkannya setiap hari.

Dan betapa beruntungnya seorang laki-laki jika bisa mendapatkan isteri dengan ciri-ciri seperti di atas. Jika pun isteri ternyata belum memiliki ciri-ciri seperti di atas adalah tugas suami untuk mendidik isterinya, karena isteri adalah tanggung jawab suaminya dan dia akan ditanya di akhirat tentang hal itu. Wallahu a’lam.


Sabtu, 13 Februari 2016

Inilah Kisah Nyata Balasan Bagi Seorang Istri Sholeha Dan Setia


Kisah nyata ini saya dapatkan dari kitab ‘Uqudulujain. Sebuah kitab yang banyak dikaji di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Kitab karya Syaikh Nawawi Al-Bantani ini cukup populer karena merupakan salah satu kitab yang membahas tentang tata cara hidup berumah tangga yang islami.

Semoga kisah yang ditulis kembali ini dapat menginspirasi para wanita khusunya yang hendak/sudah membina mahligai rumah tangga agar mendapatkan berkah dalam pernikahannya. Kisah setia ini terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

Isteri yang taat Suami, bebas untuk masuk Surga
Ketika Rasulullah S.A.W masih ada, tersebutlah seorang istri yang shalihah. Wanita setia ini begitu taat kepada suaminya. Suatu hari, karena kewajiban Agama untuk pergi berjihad, sang suami hendak berangkat memenuhi panggilan suci untuk berjihad dia berpesan pada istrinya “Istriku tersayang
yang kucintai, aku akan pergi untuk berjihad meninggikan kalimat-kalimat Allah, sebelum aku kembali pulang dari berjihad, kamu jangan pergi kemanapun dan jangan keluar dari rumah ini”. Setelah berpesan demikian pada istrinya, berangkatlah si suami menuju medan jihad.

Beberapa hari berlalu, datanglah seseorang kepada wanita tersebut yang mengabarkan bahwa Ibunya sedang sakit parah. Orang yang diutus tersebut mengatakan pada wanita shalihah tersebut untuk segera menjenguk Ibunya.
“Ibumu saat ini sedang sakit keras, jenguklah dia sekarang”

Dengan gelisah wanita tersebut menjawab “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukannya tidak mau menjenguk, tapi saya dilarang keluar rumah sebelum suami saya pulang, tolong sampaikan permohonan maaf dan salam saya pada Ibu”. Si utusanpun pulang kembali tanpa membawa wanita tersebut.

Malam berlalu dan suami yang berjihad belum juga pulang. Keesokan harinya datang kembali seorang utusan yang mengabarkan bahwa Ibu wanita tersebut meninggal dunia. Betapa sedih perasaan wanita tersebut, air matanya berlinang mendengar kabar Ibu yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya, bahkan disaat terakhirnya dia tidak berada disampingnya.

Utusan tersebut berkata “sekarang Ibumu telah tiada, datanglah untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum beliau akan dikebumikan hari ini”. Namun istri yang shalihah ini sambil menangis tersedu menjawab “Bukanya saya tidak mencintai Ibu saya, tapi saya memegang amanah suami saya untuk tidak keluar rumah hingga dia pulang dan memberi saya izin”.

Dengan berat utusan tersebut pulang. Mungkin karena kesal dan heran dengan sikap wanita tersebut yang tidak mau datang walaupun Ibunya sakit keras hingga meninggal dunia, dia adukan masalah tersebut pada Rasulullah S.A.W.

Dengan nada sedikit kesal ia berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, wanita itu sangat keterlaluan, dari mulai Ibunya sakit hingga meninggal dunia dia tidak mau datang untuk menemui Ibunya”.
Rasulullah bertanya “Kenapa dia tidak mau datang?”
“Wanita itu mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan izin untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang berjihad”, jawab utusan yang mengadu ke Rasulullah SAW tersebut.
Rasulullah SAW tersenyum, kemudian beliau berkata “Dosa-dosa Ibu wanita tersebut diampuni Allah SWT karena dia mempunyai seorang puteri yang sangat taat terhadap suaminya”.
Hikmah dari kisah ini adalah agar setiap wanita selalu taat pada suaminya selama apa yang diperintahkan suaminya bukan untuk mengingkari ketentua Allah. karena bagi seorang Istri hak Suamilah yang paling pertama dan utama harus dipenuhi, sedangkan bagi seorang Suami, Ibunyalah yang harus lebih diutamakan. Kesetiaan seorang istri dan ketaatannya pada suami pada kisah wanita di atas bisa dijadikan contoh bagaimana seorang Istri menjaga amanah dan patuh pada suami, sehingga orangtuanya pun mendapatkan berkah yang luar biasa. Semoga para pembaca khususnya wanita bisa mengambil hikmah dalam kisah ini dan menjadi seorang calon atau Istri yang baik dan diridhoi Allah SWT.
Amin amin, ya Rabb…

Ilustrasi Istri Yang Sholehah
Ilustrasi Istri Yang Sholehah

Khadijah Tidak Lagi Takut Kematian Setelah Mengikut Isa


Walau Taat, Tapi Takut Pada Kematian

Suatu hari saya dan nenek mengunjungi acara pemakaman. Mullah yang memimpin penguburan tersebut berkata, “Jika kita tidak mengikuti Islam dan tidak berbuat baik, kita pasti masuk neraka.” Perkataan tersebut selalu terngiang di telinga saya. Saya sangat memikirkannya dengan serius.
Saya seorang Muslim yang taat. Saya berdoa dengan bahasa Arab sejak berumur delapan tahun. Meskipun saya taat melakukan ajaran agama Islam, tapi ketakutan akan kematian terus ada. Saya tidak dapat berpikir tentang hari penghakiman tanpa rasa takut.

Khadijah WanitaTerhormat Yang Pada Dirinya Terkumpul Semua Kebaikan
Khadijah WanitaTerhormat Yang Pada Dirinya Terkumpul Semua Kebaikan

Berteman Dengan Pengikut Isa Al-Masih

Ketika saya masuk ke perguruan tinggi, saya bertemu dengan orang-orang pengikut Isa Al-Masih. Juga beberapa dosen di sana beragama Kristen. Bahkan salah seorang teman saya juga beragama Kristen.
Pada suatu hari seorang dosen Kristen mengundang kami ke rumahnya. Di sana kami bernyanyi bersama, minum teh, dan mendengar kisah tentang Isa Al-Masih. Semua terlihat begitu akrab dan penuh suka-cita. Saya juga senang dengan lagu-lagu yang kami nyanyikan.
Kebetulan teman saya mempunyai beberapa kaset lagu-lagu rohani Kristen. Saya meminta kepadanya sebuah lagu rohani tanpa kata “Isa.” Ketika dia memberikannya, saya senang sekali. Saya senang bersama dengan mereka, tetapi saya kurang menyukai hal-hal tentang Isa.

Isa Mendatangi Saya

Sore itu, ketika sedang mempersiapkan diri untuk mengaji, sebuah kehadiran yang tak bisa dijelaskan merasuki hati saya. Saya sangat takut. Saya bertanya, “Siapa kamu?” jawaban-Nya, “Isa, Isa.” Saya mengira iblis sedang menggoda saya untuk menjauh dari Allah.
Saya berdoa dengan bahasa Arab untuk mengusirnya. Tetapi tidak berdampak apa-apa. Ketika saya mengaji, kehadiran-Nya melingkupi saya lagi.
Malam itu saya tidak dapat tidur. Saya menutup kepala dan membaca doa khusus untuk tidur. Saya tetap tidak bisa tidur. Kemudian saya berdoa, “Allah, jika Engkau benar Allah, tolonglah saya. Isa, jika Engkau benar, lakukanlah sesuatu.” Setelah itu saya tertidur. Tapi keesokan harinya saya bangun dengan perasaan tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang kuat mendorong hati saya untuk mengetahui siapakah Isa Al-Masih sebenarnya.

Menerima Isa Al-Masih, Dan Ketakutan Akan Kematian Sirna

Akibat dorongan yang kuat untuk mengenal Isa Al-Masih, saya memutuskan untuk bertemu teman Kristen saya. Kami pun berjanji untuk bertemu di rumahnya. Mereka sangat terbuka dan ramah.
Saya menceritakan kepada teman saya tentang apa yang saya alami beberapa hari yang lalu. Juga saya berkata bahwa saya ingin tahu lebih banyak tentang Isa Al-Masih. Teman saya menjelaskan banyak hal tentang Isa yang selama ini saya tidak tahu. Saya sungguh terkejut karena saya mendapatkan jawaban atas kebingungan saya. Hari itu juga saya memutuskan untuk menerima Isa Al-Masih sebagai satu-satunya Juruselamat saya.

Jumat, 12 Februari 2016

Maryam Teladan Bagi Muslimah



Maryam adalah wanita terbaik sepanjang masa. Wanita terbaik dalam kurun sejarah wanita, dari Hawa hingga kelak yang terakhir, entah siapa. Banyak kaum hawa mencari idola dan suri teladan. Namun mereka tidak tahu siapa kiranya yang pantas diteladani. Yang lain, ada yang punya idola, tapi terkadang hanya latah dan salah langkah. Apakah wanita muslimah tahu tentang Maryam? Tahukah wanita muslimah bahwa Allah telah memujinya sebagai wanita dalam peradaban manusia? Allah ﷻ berifman,

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali Imran: 42).

Dialah pemuka kaum wanita di surga. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).

Maryam, ayahnya adalah Imran, laki-laki shaleh dari Bani Israil. Ibunya adalah wanita shalehah yang telah menyerahkan putrinya yang masih dalam kandungan untuk berkhdimat kepada Allah.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35).

Dan putranya adalah seorang rasul dari kalangan ulul azmi, Isa bin Maryam ﷺ.

Masa Kecilnya

Imran ayah Maryam wafat saat anaknya ini masih dalam kandungan ibunya. Atau ia wafat bersamaan dengan kelahiran putrinya (Fabihudahum Iqtadih oleh Syaikh Utsman al-Khomis, Hal: 442). Ibu Maryam berdoa agar anaknya tidak diganggu oleh setan. Sehingga saat Maryam dilahirkan, setan tidak diperkenankan untuk mengganggunya. Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا » ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” (HR. Bukhari 4548 dan Muslim 2366).

Lahirlah Maryam dalam keadaan yatim. Namun karena keberkahan dari keshalehan kedua orang tuanya, banyak ahli ibadah di Baitul Maqdis yang hendak mengasuhnya. Kemudian Rasulullah Zakariya yang menjadi pengasuh Maryam. Karena kedekatan hubungan famili.

Wanita Shalehah Yang Menjauhi Gangguan Laki-Laki

Allah memuji Maryam dengan wanita yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar…” (QS. Al-Maidah: 75).

Maryam sangat menjaga kesucian dirinya. Ia tidak sembarangan berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak menggoda laki-laki dan juga menjauhi godaan mereka. Apakah wanita tergoda dengan laki-laki? Ya, karena secara naluri, wanita pun memiliki ketertarikan kepada laki-laki. Dan wanita yang baik adalah yang menjaga diri untuk membuat laki-laki tergoda dan menjaga diri dari godaan laki-laki.

Pernah suatu ketika Jibril datang kepada Maryam. Datang dalam fisik laki-laki yang sempurna. Namun Maryam tetap menjaga dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا. قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 17-18).

Melihat laki-laki yang sangat sempurna ketampanannya, Maryam tidak terkecoh dengan merendahkan dirinya mencoba menarik perhatian laki-laki tersebut. Ia malah berlindung kepada Allah dan meminta laki-laki tersebut menjauh. Hingga akhirnya Jibril mengatakan,

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 19).

Barulah Maryam tahu bahwa laki-laki tersebut tidak bermaksud menggoda dan mengganggunya. Dan ia juga bisa menjaga diri darinya. Ternyata ia adalah malaikat yang Allah utus untuk menemuinya.

Pelajaran:

Hendaknya wanita muslimah menjadikan Maryam sebagai salah satu teladannya. Janganlah menjadikan orang-orang yang di bawah beliau sebagai teladan. Apalagi dari kalangan non Islam. Agama kita yang mulia banyak melahirkan sosok-sosok wanita tangguh. Mereka hebat dalam menjalani kehidupan dunia, memiliki cita-cita tinggi di akhirat, dan taat kepada Rabb mereka, Allah ﷻ.

Sudah seharusnya wanita muslimah menjaga diri dari laki-laki. Karena itulah kemuliaan. Jangan tertipu dengan ungkapan bahwa kehebatan wanita itu karena mampu menaklukkan laki-laki dengan rayuan. Parameter wanita muslimah bukanlah Cleopatra yang mampu menaklukkan para pembesar dunia dengan tipu dayanya.

Contohlah Maryam. Terutama di zaman interaksi laki-laki dan perempuan hampir tak ada batas. Maryam yang sudah Allah sebut langsung sebagai wanita yang terpilih, wanita baik-baik, wanita yang disucikan, namun masih enggan berdekatan dengan laki-laki karena takut tergoda. Ia takut kalau berdekatannya dengan laki-laki akan menimbulkan sesuatu yang Allah haramkan.

Lalu bagaimana dengan wanita muslimah sekarang? Wanita muslimah saat ini, bukanlah termasuk yang disucikan oleh Allah. Semestinya lebih pintar menjaga diri mereka. Wahai saudara muslimah, mintalah taufik dan pertolongan kepada Allah. Mintalah kepada-Nya penjagaan. Penjagaan kesucian diri dan kehormatan sebagai seorang muslimah.

Sumber : http://seribusatukisahislami.blogspot.co.id

 

Penyesalan sang istri kepada suami ( Setelah suami meninggal dunia )




Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orang tuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, khawatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali ku telepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung.

Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan Maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Shalatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah dari mana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, kesatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan di sana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang tuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Semoga kisah di atas dapat kita ambil hikmahnya untuk menjadi istri yang solehah untuk menuju surgaNya Allah.
Rasulullah SAW bersabda: ”Jika seorang isteri itu telah menunaikan solat lima waktu dan berpuasa pada bulan ramadhan dan menjaga kemaluannya daripada yang haram serta taat kepada suaminya, maka dipersilakanlah masuk ke surga dari pintu mana sahaja kamu suka.” (HR. Ahmad dan Thabrani)


Sesal Kemudian



Arsip Blog